Kisah Sukses Dengan Modal Rp.2000

JAKARTA, KOMPAS.com — Usia boleh senja, tetapi semangat untuk berkarya tetap tinggi. Itulah yang dipraktikkan Iwa, pemilik Indo Cipta Galeri Craft Art di Bogor, Jawa Barat.

Perempuan berusia 61 tahun ini setiap hari menopang usahanya dengan bekerja sebagai perajin aksesori dan sulaman kepompong. Dengan penglihatan yang mulai surut, setiap hari dia bisa menghasilkan lebih dari 10 kerajinan. Bahkan, dalam waktu tiga bulan, dia bisa menghasilkan sekitar 300 kerajinan dari tangannya sendiri.

Alhasil, dari hasil kerjanya itu, nenek satu cucu ini tak perlu menggantungkan hari tuanya di tangan suami ataupun anak-anaknya.

”Umur sekian enggak masalah. Ngapain pensiun, ngapain kita berhenti. Kita senang kok hobi kita tersalur, biarpun sudah nenek-nenek. Nanti saja kalau sudah diambil Tuhan baru pensiun,” kata Iwa kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi pameran ekonomi daur ulang, Hotel Bidakara, Jakarta.

Sudah sembilan tahun Iwa membuat kerajinan kepompong. Sebelum memproduksi kerajinan aksesori dan sulaman kepompong, nenek satu cucu ini membuat kerajinan bunga kering. Pekerjaan ini dijalaninya sejak 32 tahun silam.

Saat itu, Iwa baru saja diperistri oleh suaminya, Irwin Hasibuan (62). Kehidupan pengantin baru ternyata membuatnya memiliki banyak waktu luang. Dia pun mencari kegiatan dan mulai menggeluti hobinya saat masih gadis dulu, yakni membuat kerajinan.

Dengan bermodalkan Rp 2.000, dia menjajal kerajinan bunga kering. Tak disangka, hasil kerajinannya ini laku dijual dan pesanan pun mulai membanjir.

Puluhan tahun menyetir usahanya, Iwa pernah berulang kali mengalami jatuh bangun. Usahanya mengalami masa kejayaan pada 1992. Saat itu, banyak pesanan mengalir dari Amerika Serikat, Brunei, dan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Dari dalam negeri, pelanggannya banyak berasal dari kalangan birokrat. Namun, krisis moneter 1997 menghantam usahanya. ”Saat krisis moneter itu pelan-pelan usaha saya terus menurun. Itulah yang disebut sampai titik nadir kami. Terus terang saya bingung mau bagaimana. Pokoknya sempat menangis berdarah-darah,” ujarnya pelan.

Tak kehilangan semangat, ibu tiga anak ini terus memproduksi bunga kering. Zaman pemerintahan Gus Dur, dia mendapat pesanan 20 rangkaian bunga kering dari kalangan pegawai pemerintahan. Pesanan ini cukup membangkitkan usahanya kembali.

Memasuki abad ke-21, dia merasa bahwa pasar telah mulai jenuh dengan produknya. Iwa mencoba kreasi baru dengan mengadopsi kepompong untuk diimbuhkan dalam kerajinannya.

Tak hanya kepompong sutra, segala macam rumah ulat ini dicobanya. Biasanya, dia memilih untuk mempertahankan warna asli kepompong dalam setiap produknya. Hasilnya, kepompong warna kuning emas atau putih ini disulap menjadi aksesori baju ataupun jepitan rambut. Versi lain, Iwa menyulamkan kepompong sebagai hiasan di baju ataupun selendang.

”Ibu cari biar tampil beda dan eksklusif. Pokoknya harus kreatif dan bahannya yang unik. Dari situ saya lihat kepompong dan berpikir kalau itu bisa disulam dan diapa-apain menjadi aksesori. Eh, malah bikinan nenek-nenek disukai anak-anak,” ucapnya.

Gimana modalnya? Ada yang nekad lho gan dengan menjual BPKB. Paraahhhh….tapi akhirnya berhasil juga.

ini nih:
Besar Kecil Normal
Dari Menggadaikan BPKB, Kini Beromset Rp 3 Miliar
Sabtu, 13 Maret 2010 | 19:31 WIB
Besar Kecil Normal

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Berawal dari menggadaikan BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor) untuk merintis usaha cuci pakaian (laundry), Agung Nugroho Susanto, kini bahkan bisa meraup pendapatan Rp 3 miliar per bulan. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini bahkan dinobatkan sebagai juara pertama Wirausaha Muda Mandiri 2009, anugerah dari Universitas Gadjah Mada kepada para alumninya yang dinilai sukses merintis wirausaha.

Agung memulai usaha jasa laundry sejak 28 Fabruari 2006, setelah bisnis distro dan jual beli handphone bangkrut. Ketika memulai usaha jasa cuci pakaian, Agung masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum UGM. Untuk memulai usaha barunya itu, Agung terpaksa menggadaikan BPKB.

“Uang hasil menggadaikan BPKB itu kemudian saya belikan satu mesin cuci dan satu mesin pengering,” jelas Agung saat berbincang dengan wartawan beberapa waktu lalu. Agung memulai usaha jasa cuci pakaian yang diberi nama Simply Fresh Laundry ini di Jl Flamboyan, Yogyakarta.

“Saat itu sudah ada lima jasa cuci pakaian di tempat itu. Karenanya, saya harus memberi tawaran yang berbeda agar bisa bersaing,” katanya.

Tawaran itu diantaranya adalah memberlakukan tarif kiloan, pelayanan empat jam selesai, dan pelanggan bisa memilih tujuh macam pewangi yang ditawarkan. Agunglah yang pertama merintis bisnis laundry dengan sistem kiloan di Yogyakarta dengan tarif relatif murah, yakni Rp 3.800 per kilo. “Saya terpaksa harus tidak tidur selama 24 jam karena peminatnya banyak, sementara saya hanya punya satu mesin cuci dan satu mesin pengering,” kata Agung.

Bisnis jasa cuci pakaian yang dirintis Agung ini ternyata berkembang sangat pesat. Ia mulai membuka cabang di sejumlah tempat. Bahkan, mulai tahun 2007 ia mulai mengembangkan bisnis cuci pakaian ini secara waralaba. “Tahun 2010 ini kami sudah punya 110 outlet di seluruuh Indonesia, dari Sabang sampai Papua dengan omzet Rp 3 miliar per bulan atau Rp 36 miliar per tahun,” katanya.

Agung kini mulai berpikir untuk go internasional. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami akan membuka cabang di Malaysia dan Singapura,” katanya.

Selain Agung, juga ada dua mahasiswa UGM yang meraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2009. Keduanya adalah Saiqa Ilham Akbar dan Indra Haryadi. Saiqa, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM angkatan 2005, memperoleh juara II Wirausaha Muda Mandiri 2009 katagori Jasa Boga Mandiri. Sedangkan Indra, mahasiswa Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM, memperoleh penghargaan juara II Wirausaha Muda Mandiri katagori jasa Kreatif Mandiri.

Saiqa, memperoleh penghargaan karena usaha jasa boga berupa restoran masakan Jepang, Hotaru. Ia memulai usahanya pada 1 Juli 2008 di Jl Gejayan, dan kemudian dipindah ke Jl Soragan No 1 (selatan Mirota Godean), dengan omzet Rp 20 juta per bulan. Kini ia mulai membuka cabang di dekat Lembah UGM.

Sementara Indra Haryadi memperoleh penghargaan karena ristisan usaha DOJO Hotspot Center di kawasan Pogung Kidul, Sleman. DOJO Hotspot Center adalah jasa layanan Wi-Fi berbayar pertama di Indonesia. Usaha yang dirintis sejak 27 April 2008 ini kini telah berkembang pesat dengan omset Rp 1 juta per hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: